Ayah Kelinci

Ayah bukan sekadar makhluk gagah temannya Ibu. Ayah adalah makhluk hebat yang Allah ciptakan untuk melakukan pendidikan terbaik di dalam rumah. Tidak seorang ibu hebat pun dapat melakukannya dengan utuh, sesempurna ayah jika ia mau melakukannya, pada hal-hal yang khas istimewa milik ayah.

Berikut adalah sebuah cerita tentang seekor bayi kelinci yang baru lahir. Masing-masing anggota keluarga menyatakan harapan mereka. Bermacam-macam. Ada yang ingin sang bayi kelinci menjadi petugas pemadam kebakaran, menjadi pemilik toko permen, jadi dokter, pengusaha, pemilik peternakan, masinis kereta api, koki hebat, penakluk beruang. Bahkan masih sederet lagi ragam-ragam keinginan mereka terhadap si bayi kelinci untuk nanti ia akan menjadi apa jika dewasa.

Sang tokoh utama (bayi kelinci itu) digambarkan hanya tersenyum, asyik bermain dan mendengarkan semua harapan “orang” dewasa di sekitarnya dengan mata berbinar gembira menikmati cinta.

Pada bagian akhir cerita, akhirnya sang bayi kelinci bicara. Ternyata ia mengatakan sebuah kalimat besar yang mempesona. Di bilang pada semua “orang” yang mencintainya itu bahwa ia tidak ingin menjadi seperi yang dikatakan oleh ayah, ibu, nenek kakek, paman, bibi, tetangga, dan sahabat-sahabat keluarga lainnya.

Ia sudah punya keinginannya sendiri. Ia hanya ingin menjadi AYAH KELINCI.

Anak kelinci itu ingin menjadi AYAH KELINCI yang setiap malam mendongengkan anak-anak kelinci cerita-cerita yang menarik, membopong mereka ke kamar kecil sambil bercanda, dan kembali menemani.. sampai kelinci-kelinci kecil tertidur lelap dalam kisah pengembaraan dan imajinasi yang tak akan pernah terulangi lagi.

Kisah-kisah keberanian, kejantanan yang penuh kearifan, kesatriaan, dan berani mengakui kesalahan, memimpin dengan kasih sayang dan kelembutan, ketajaman mengendus bahaya, ketepatan dalam mengambil keputusan, mengembangkan rasa humor yang patut, berani bekerja, mampu bekerjasama dalam keberbedaan, mengenal petualangan di alam bebas, mengantisipasi keadaan darurat, memecahkan masalah dengan keadilan, memanah, berenang, berkuda, mengenal listrik sederhana di rumah, memasak gaya ayah, memanjat pohon, menanam dan memupuk, menggergaji, menundukkan ular, membersihkan kamar mandi, mengatur gudang, mencuci motor atau mobil, belajar mencukur dan bagaimana ia harus dapat melindungi dan mencintai anak-anak perempuan yang kelak akan menjadi ibu dari cucu-cucunya? Oh, alangkah banyak yang dapat ayah ajarkan pada anak-anak lelakinya.

Kemana ayah kelinci hari ini? Kenapa lebih banyak ayah kelinci yang selalu berangkat pagi dan pulang sore atau malam hari? Lalu ia baca koran, minum kopi dan tidak berterima kasih ketika semua baju tersetrika rapi serta makanan siap selalu di meja. Dan di hari Sabtu dan Ahad, ayah kelinci lebih sering janjian olahraga dengan para ayah kelinci lain dengan meninggalkan piring dan sendok yang berserakan bekas makan?

Jadi, kapan ayah kelinci main dan melayani anak-anak? Kapan pula ayah kelinci tidak hanya minta dilayani oleh ibu dan juga para pembantu?

Kemana perginya peran ayah kelinci hari ini? Mungkinkah kita membuat HARI AYAH? Kapan?

Sumber: dalam rubrik Harmoni oleh Neno Warisman, Majalah Al-Falah

Leave a comment

Filed under cerita, untuk ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s