Beraktinglah sebaik mungkin di depan anak-anak

Setiap apa yang kita lakukan akan mudah ditiru anak-anak yang memang berada dalam masa meniru. Jangan sampai tindakan negatif kita ditiru juga oleh anak kita. Kalau bisa ya kita menghilangkan pernak-pernik tindakan negatif kita agar kita tidak perlu berakting. Tapi kadang ada tindakan negatif kita yang memang susah untuk dihilangkan misalnya berbagai macam fobia (fobia ketinggian, fobia cacing, fobia ular, dll).

Terkadang kita secara tidak sadar menularkan fobia itu kepada anak kita. Atau memang dengan sadar menginginkan anak kita mempunyai fobia yang sama dengan kita?

Kalau Buncil sih pengennya anak-anak tidak mengalami fobia yang sebenarnya disebabkan hanya karena sugesti negatif saja.

Oleh karena itu, kadang kita dipaksa berakting sebaik mungkin, seprofesional mungkin di depan anak-anak untuk menyembunyikan ke-fobiaan kita.

Suatu ketika Buncil bermain-main dengan Syasya di bawah pohon, di situ ada ular mati. Buncil jijik juga sebenarnya. Buncil berekspresi setenang mungkin mendekati ular itu.

“Wah, ada ular mati. Sini liat ularnya” sambil mengajak Syasya mendekati ularnya. “Syasya mau pegang? Ularnya gak nggigit kok?” sambil mencotohkan megang ular.. Alhasil Syasya megang ularnya. “Ayo dibuang yuk” Dan kami berdua sama-sama membuang ular itu.

Di lain waktu, ada anjing mendekati kita. Huwaa, sumpah Buncil takut banget sama anjing. Tapi Buncil berekspresi setenang mungkin. Karena anak-anak uda ketakutan.

“Lho kok takut. Anjingnya nggak nggigit kok kalo kita nggak ganggu. Anjingnya cuma mau lewat. Guk guk guk” kataku

Di luar dugaan, malah Salim dan Hifzan jadi ngejarin anjingnya. Tuing.

Suatu ketika kami bermain di dekat tanaman lombok sambil menggali tanah. Kami menemukan banyak cacing dan serangga aneh.

Syasya dan Salim keliatan jijik dan ketakutan. Termasuk Buncil juga lagi jijik aja pegang begituan kalau tidak terpaksa (praktikum biologi, hahaha).

“Wah, cacing banyak ya. Ayo kita kasih ke ikan. Wah pasti ikannya suka.” saya ambil cacingnya dan mencoba mendekatkan ke Syasya. Awalnya agak jijik dia, tapi akhirnya malah exciting.

Itu hanya beberapa contoh saja. Bisa dibayangkan kalau saat menghadapi ular, anjing, dan cacing, Buncil menunjukkan ekspresi/tindakan negatif yang secara otomatif akan menanamkan sugesti negatif pada alam bawah sadar anak-anak bahwa ketiga contoh makhluk tersebut menakutkan. Karena perlu diingat, alam bawah sadar sangat aktif di masa anak-anak. Dan akan terbawa sampai dewasa.

Jadi, jangan tulari anak Anda dengan berbagai fobia yang Anda miliki. Beraktinglah sebaik mungkin =)

Leave a comment

Filed under experience

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s