Mendidik ala Radio Rusak

Pernahkan anda mendapati radio yang tiba-tiba rusak/ ngadat, yang kadang bunyi kadang tidak? Apa yang biasanya kita lakukan? Jawabannya mungkin hampir serupa : biasanya kita akan spontan memukul-mukulnya denga harapan radio itu akan normal kembali. Masalahnya, bila hal itu yang kita lakukan terus menerus, apakah radio itu akan bertambah baik atau malah sebaliknya? Biasanya bila radionya sudah benar-benar parah atau malah mati, barulah kita membawanya ke tukang service rado untuk dicari penyebab kerusakannya dan kalau bisa diperbaiki. Pertanyaannya, mengapa kita suka memukul-mukul radio rusak agar bisa bunyi kembali? Ada berbagai macam jawaban untuk pertanyaan itu, diantaranya :

1. Karena tidak tahu penyebab kerusakannya.
2. Ingin cara yang mudah dan cepat.
3. Terbawa emosi dan rasa kesal karena hal itu terjadi berulang-ulang.
4. Tidak ingin repot-repot mencari penyebab masalah dan menemukan solusinya.

Tanpa kita sadari banyak orang tua yang sering memperlakukan anaknya yang bemasalah seperti memperlakukan radio rusak. Kemudian setelah si anak tidak dapat diperbaiki lagi dikirimlah ia ke tempat-tempat penampungan, tempat rehabilitasi, tempat pembinaan remaja bermasalah, atau bahkan mungkin harus berakhir di lembaga pemasyarakatan.
Mengapa orang tua sering berlaku seperti itu? Jawabannya pun hampir serupa :
1. Orang tua tidak tahu mengapa anaknya berperilaku buruk.
2. Setiap orang tua umumnya ingin cara cepat dan mudah untuk mengatasi perilaku anaknya yang dianggap menyimpang.
3. Orang tua melakukannya karena terdorong emosi dan rasa marah.
4. Tidak banyak orang tua yang mau bersusah payah untuk belajar menemukan masalah dan mencari solusinya.

Fenomena ini sering kali terjadi terhadap anak-anak kita, baik kita sadari maupun tidak. Orang tua serign kali memukul anaknya yang dianggap sedang “ngadat”, baik menggunakan kata-kata yang kasar, maupun menggunakan tangan secara fisik. Sebagian orang tua cenderung memilih cara yang mudah dan cepat dalam menyelesaikan konflik dengan anaknya. Hal itu akan memberikan reaksi ”seolah-olah” anak kita menjadi lebih baik. Tetapi lama kelamaan hal ini akan memupuk sebuah tekanan kejiwaan bagi anak yang akan berujung kepada sebuah perlawanan si anak terhadap orang tuanya.

Alangkah sedihnya anak-anak kita bila orang tua terus menerus memperlaukan meraka seperti radio rusak. Coba bayangkan bila cara ini dilakukan terus menerus terhadap anak-anak kita, mau seperti apa masa depan mereka kelak. Bukankah anak merupakan perwujudan cinta kasih kedua orang tuanya? Anak kita adalah permata yang tak ternilai harganya. Anak kita adalah titipan Allah yangharus kita pelihara dan kita didik dengan sepenuh cinta dan kasih sayang. Tapi betapa teganya kita bila memperlakukan anak-anak kita seperti benda yang tidak berharga yang siap dilempar ke gudang atau bahkan ke tong sampah. Orang tua sudah seharusnya belajar mengelola / mendidik anak-anak kita sebagaimana mestinya sehingga tidak terjadi lagi fenomena radio rusak yang selama ini banyak kita temui.

Sumber : radiotalk ayah edy

1 Comment

Filed under artikel

One response to “Mendidik ala Radio Rusak

  1. Analogi yg bagus. Salam kenal. Silahkan kunjungi blog kami di http://skbjepara.wordpress.com. Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s